Pentas Teater Payung Hitam, Post Haste di Bandung

Pentasnya kerap ditandai elemen properti: baret, sepatu lars, lencana, mizan, palu pengadilan, lampu suar, tulang-belulang, tambur, pistol, bola beban, borgol, rekaman pidato pejabat, suara tembakan, gemuruh helikopter. Ia juga mengeksplorasi benda bergerak seperti gerobak dorong, dipan beroda, dan otopet. Ingat pementasan DOM, misalnya: empat jenderal bertopeng badut lengkap dengan baret dan tanda kebesaran awalnya bertepuk tangan seperti menikmati musik. Gerak-gerik tubuhnya sama. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Pistol diketuk-ketukkan di meja.

Saat seseorang yang terbujur di atas papan beroda berlalu-lalang di depan mereka, serentaklah pistol ditembakkan. Rachman ingin membuktikan bahwa hal-hal pam?etis militer saat itu menarik diangkat ke wilayah estetis sebagai parodi. ”Aktor-aktor Payung Hitam sering menyajikan tubuh massa yang agresif, tapi juga tubuh visual yang menonjolkan rupa serta komposisi,” kata Benny Johanes, pengamat teater. Memang kekuatan Rachman dalam menonjolkan tubuh tak hanya menampilkan tubuh liar tak beraturan, tapi ia sangat sadar terhadap komposisi visual. Dalam pertunjukan Post Haste, misalnya, muncul permainan aktor dengan dinding-dinding penyekat.

Tripleks-tripleks yang sudah lusuh itu digeser ke kanan dan kiri oleh aktor-aktornya. Setiap kali sekat bergeser, penonton disuguhi adegan aktor yang berbeda. Terasa komposisinya mengasyikkan. Dalam banyak pertunjukan sebelumnya, Rachman menghadirkan imaji-imaji pa- tung jenderal berseragam lengkap tanpa kepala, tokoh dewi keadilan menenteng neraca, penabuh genderang berkepala lima, sementara punggungnya bercabang empat, kepala boneka berbaret satuan-satuan elite militer, yang menarik secara visual. Beberapa tahun lalu, Rachman pernah terkena stroke. Saat itu ia tengah menyiapkan karya Puisi Tubuh yang Runtuh. ”Sebagai orang yang mengandalkan kekuatan tubuh, saya justru kehilangan tubuh saya. Tubuh saya tidak berdaya.

Saya tidak bisa ngomong. Saya tidak bisa berjalan,” tutur Rachman. Ia bercerita bagaimana ketika terkena stroke itu ia mulai menyadari batas-batas kekuatan tubuh. Menyadari keangkuhan kekuatan tubuhnya. ”Saat itu saya minder. Wajah saya rusak. Dua bulan saya tidak ke luar rumah, hanya di dalam kamar.” Tapi kemudian perlahan dia memberanikan diri meneruskan latihan. Dan itu ternyata mempercepat pemulihan dirinya. Puisi Tubuh yang Runtuh penuh adegan jatuh-bangun. ”Saya jadi menyadari betapa luar biasanya pancaindra.” Kini Rachman memasuki fase yang lain. Ia sekarang menempa diri melakukan latihan-latihan di sawah-sawah di perdesaan Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan pelosok Jawa Barat lainnya.

Dia mempersiapkan diri sebuah karya tunggal: Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi Merunduk. Rachman mencari akar tubuh kultur petani. ”Saya melihat saat petani membajak, mengalirkan alir ke selokan, memasang bebegig—untuk mengusir burung-burung sangat indah dilihat, meski tidak dimaksudkan untuk ditonton.” Rachman ingin kembali ke tubuh arkaik. Mencari akar-akar spiritual tubuh agraris. Ia muak dengan segala kosmetik tubuh-tubuh di segala acara televisi yang menurut dia cenderung palsu. Entah pengembaraannya ke sawah-sawah ini akan menghasilkan pementasan seperti apa.

Selama ini yang ditonjolkan Payung Hitam cenderung unsur tubuh yang keras dan terasa sangat maskulin. Yang jelas, Rachman dalam ulang tahun teaternya yang ke-34 ini makin meyakini teater tubuh adalah jenis teater yang lebih strategis dalam menyesuaikan diri dengan zaman. Teater tubuh bisa fleksibel, tidak terbatas pada ruang. ”Saya bosan dengan segala kecerewetan kata-kata,” ujarnya.

Tentu juga ia harus menjaga teaternya agar tidak jatuh dalam kecerewetan bendabenda. Rachman berniat mendirikan jurusan teater tubuh di Institut Seni Budaya (ISBI) Bandung, tempatnya mengajar sehari-hari. Menurut dia, jaringan teaternya di luar negeri banyak membutuhkan keaktoran yang berangkat dari teater tubuh, bukan realis. Juga terutama teater tubuh, menurut dia, pas untuk mengekspresikan masyarakat kita yang sakit. ”Saya percaya, teater tubuh punya keleluasaan yang amat-sangat untuk mengekspresikan kondisi sosial kita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *