PEMBALASAN SEORANG PENDIAM

Kota-Bunga.net M EREKA an kepercayaan terhadap bahasa verbal. Maka me letuslah pistol di tangan polisi kulit putih Ame telah kehilang- – – rika—yang belakangan acap dicurigai menyimpan sangka buruk kepada warga kulit hitam—lalu rebahlah Philando Castile dengan tubuh bersimbah darah. Di luar Kota Minneapolis, karena lampu belakang mobilnya tak menyala, Philando Castile, 32 tahun, pemuda kulit hitam, diseret kemudian ditembak oleh seorang polisi lalu lintas di jok mobilnya. Setelah sebuah video yang merekam adegan Castile perlahan-lahan kehabisan darah di kursi depan mobilnya itu beredar luas, gemparlah masyarakat Amerika. Namun apa yang kemudian terjadi pada Kamis pagi dua pekan lalu di tengah-tengah Kota Dallas, Texas, sungguh di luar dugaan. Tatkala ribuan orang menyambut seruan kelompok kulit hitam Black Lives Matter untuk turun ke jalan memprotes kebrutalan itu, diam-diam seorang pemuda setempat memanjat sebuah gedung bertingkat, kemudian mulai menembaki polisi. Dari atap gedung, Micah Xavier Johnson, 25 tahun, menembak sambil berpindahpindah, dan hasilnya benar-benar menyesakkan: lima orang polisi tewas dan sembilan lainnya luka-luka—semuanya berkulit putih. Dua jam lebih tembak-menembak yang sesekali diselingi negosiasi yang menegangkan itu berlangsung.

Terkecoh oleh kelincahan bekas prajurit dalam pasukan cadangan Amerika yang pernah bertugas di Afganistan ini, dan melihat korban di pihaknya bertambah banyak, akhirnya polisi memutuskan untuk menyudahi ”drama” itu. Teror Micah Johnson berakhir setelah mereka mengirim robot untuk menghampirinya, dan meledakkannya dari jarak Rangkaian penembakan oleh polisi kulit putih terhadap pemuda kulit hitam seperti tak kunjung henti. Kelompok kulit hitam militan diduga mendorong tindakan balas dendam di Dallas.

beberapa blok dari lokasi penembakan Presiden John F. Kennedy pada 1963. Tatkala polisi lalu memeriksa apartemennya di lingkungan Pecan Creek, Mesquite, pinggiran Dallas, mereka menemukan rompi antipeluru, aneka senjata laras panjang, amunisi, dan ramuan untuk merakit bom. Rupanya, penembakan itu hanya satu dari serangkaian rencana Micah Johnson dalam perang pribadinya melawan polisi kulit putih. Seseorang yang lelah dengan perlakuan buruk polisi terhadap orang-orang kulit hitam telah menempuh jalan ekstrem.

Seorang anak tetangganya di Mesquite, yang setiap minggu suka menghabiskan waktu bermain bola basket bersamanya, mengatakan bahwa Johnson tidak banyak bicara. Ia tampak berpendidikan, katanya, dan sepertinya sudah meresapi buku-buku gerakan pembebasan kulit hitam di Amerika. Tentu seorang Micah Johnson sudah bergulat dengan gagasan antikekerasan Martin Luther King Jr, ide separatis Elijah Mohammad (pendiri kelompok The Nation of Islam), dan pergulatan aktivis antikulit putih Malcolm X. Seorang pendiam telah menanamkan ajaran-ajaran itu dengan khidmat ke dalam sanubarinya sendiri, dan sekarang ada ”sesuatu” yang membuat ia pelan-pelan bergerak dari keyakinan yang mengharamkan kekerasan jadi menghalalkan kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *