Mochi Bertoping Unik

Tampilan mochi tentu semakin unik dengan tambahan magic jet, sebagai pemanis hiasan di atasnya. Tak perlu khawatir, mesin ini tak membahayakan bagi tubuh alias sangat aman dikonsumsi karena menggunakan edible ink sebagai bahannya. “Magic jet tak hanya saya gunakan untuk menghias mocha, tapi juga wafer, kopi, marshmallow, lollipop, cake, cookies, macaroon, bakpao, dimsum, dan lainnya. Just like magic!,” seru Indrayani S, pemilik SugarPotz.

Proses penggunaan magic jet-nya cukup mudah. Hanya dengan memasukan mochi ke dalam mesin untuk dicetak gambar sesuai desain yang konsumen inginkan. Jadi, Sajiers yang ingin memberikan hadiah lucu nan menggemaskan dengan mochi bergambar wajah seseorang, bisa pesan ke SugarPotz. “Dengan memakai magic jet, kita dapat membuat mochi menjadi lebih menarik dan sesuai dengan permintaan pelanggan. Mau mochi dengan logo perusahaan, foto, maupun gambar lainnya bisa kami buat. Jadi, dengan mesin ini kami bisa menghemat waktu produksi karena penggunan mesinnya sangat mudah dan cepat,” tutur Indrayani.

Dengan harga mochi Rp 2.500 hingga Rp 7 ribu per buah, Sajiers bisa memilih varian mochinya. Di antaranya green tea, cokelat, cream cheese, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah. “Varian kacang merah dan green tea merupakan yang paling disukai pelanggan karena merupakan varian rasa original mochi Jepang. Sedangkan varian kacang tanahnya kami kreasikan dengan cita rasa gurih pada mochinya. Ternyata cocok sekali dengan lidah orang Indonesia,” pungkas Indriyani.

Sejak abad 18

Jenis kopi bernama Bourbon Pointu ini pasti asing di telinga kita. Tak usah kecil hati kalau Anda tidak mengenalnya karena dari 103 spesies kopi yang terdata di seluruh dunia, memang hanya muncul 2 varietas utama yang sangat dikenal saat ini, yakni arabika dan robusta. Bourboun Pointu tidak masuk ke dalam keduanya. Bentuk pohon kopi bourboun pointu menyerupai pohon cemara Natal. Batangnya tidak terlalu tinggi dengan produktivitas buah yang memang tidak terlalu banyak. uniknya, bentuk biji kopi ini lancip di kedua ujungnya.

Citarasa prima nyaris sempurna dengan kadar kafein yang rendah menjadi ciri khas biji kopi langka ini. Pohon-pohon kopi di pulau La Reunion sudah mulai tumbuh sejak abad 18 sebagai hadiah dari Sultan Yemen kepada raja Louis XIV (yang kemudian dikenal dengan varietas Arabica bourbon). Sementara pohon arabika di daerah Jawa Barat mulai ditanam oleh Belanda di awal abad 18 (yang kemudian terkenal dengan nama varietas Arabica typica). Kopi arabika var.

Laurina ini sering disajikan kepada raja-raja Perancis karena dianggap sebagai kopi terbaik di dunia. Namun perlahan, popularitas Laurina menurun tajam karena produktifitas yang rendah, hanya sekitar 800 – 1.000 kg biji kopi per tahun, dan minimnya perawatan serta peremajaan lahan. Sejak sepuluh tahun terakhir, berkat kolaborasi antara CIRAD (lembaga riset agrikultur asal Perancis) dan CFEReunion, dibuat program revitalisasi dan pemberdayaan kopi Bourbon Pointu di seluruh pulau La Reunion, di bawah komando Frédéric Descroix, pakar agronomi.

Kandungan hara tanah di La Reunion sangatlah cocok bagi pohon Laurina untuk tumbuh secara optimal, karena struktur lapisan tanah kuno vulkanik dari pegunungan Piton des Neiges, demikian juga curah hujan yang tidak terlalu tinggi, temperatur rata-rata yang berkisar antara 15-19 derajat Celsius turut menyumbangkan peranan dalam menciptakan citarasa prima dalam secangkir Bourbon Pointu.